Halaman

Minggu, 11 Maret 2012

Cangar

diliat dari namanya aja udah sangar banget, CANGAR. Gue pikir itu nama cagar alam ato apa gtu, pkonya tempat hutan yang dikelilingin pager dengan banyak binatang yang dilindungin. Ternyata gue salah. Itu adalah sebuah pemandian air panas.

Perjalanan
perjalanan dimulai dari jam stengah 8 pagi. Start di kampus tercinta, Brawijaya FEB. Sebenernya janjian jam 7 pagi. Karena pada dasarnya ini hari sabtu yang indah buat kebo-keboan di kamar, alam bawah sadar gue nyuruh buat gue tetep tidur. hhe... Gue ngerasa ngga enak sama anak2 (bukan anak gue ya). Tapi ternyata yang telat bukan cuma gue, jadi biarlah ini menjadi rahasia kita (gue dan lu yang baca :D).
Kami berjalan dengan 6 anak gila yang mencoba kabur dari rutinitas dan 3 motor yang seadanya setelah kami membeli bekal. Tanpa basa basi kita cauuu..

Ini yang udah gue nanti-nanti sebenernya. Ngebujuk mereka buat naik gunung. Mereka selalu punya kesibukan dan gue sekarang udah banyak nganggurnya (sedih banget jadi pengangguran..-_-). Perjalanan kota terlewati dengan mulus yang agak menanjak. Penat dan asap knalpot (seperti namanya yang sok-sok kenalan sama idung) udah menyeruak. Namun setelah beberapa detik (lebay dikit) kami dibalas dengan lekukan jalan aspal yang tepinya ladang wortel hijau. Di kejauhan terlihat gunung sudah menyapa kami dengan kabutnya yang masih berani menentang matahari. Dingin pun sudah mulai menusuki tulang kami. Ditemani dengan jaket fakultas warna merah (4 orang pakai ini), jaket parasut seadanya, dan gue dengan jaket anak akuntansi (boleh minjem..hhe). Semakin menanjak, dingin tak lagi mau basa basi. Jalanan pun makin curam. Dengan motor yang seadanya, tanjakan securam apapun harus kami hantam. Dengan semboyan (apalah itu..) untuk mendukung salah satu motor kami yang ngga kuat tanjakan dengan kata: "pucuk". Jadi setiap tanjakan tinggi, kami menyoraki motor tersebut dengan "pucuk...pucuk...pucuk" bak suporter bola yang geregetan mendukung timnya untuk mencetak angka. Jadilah kami the Pucuk. Berjalan untuk satu tujuan. Berendam air hangat (padahal sebenernya udah kedinginan..hhe).

Cangar
Melihat Cangar bukan seperti kolam renang kota yang isinya banyak anak kecil lari2an bawa ban trus banyak pedagan gorengan, bukan Cangar bukan seperti itu. Sehabis parkir, kami disambut oleh penjaga gerbang. Dengan biaya 3000 per orang kami bisa langsung kabur (emang dari penjara?hhe tapi emang rutinitas kota ibarat seperti itu buat kami). Disambut pohon besar dan tangga menurun serta orang korea ( macam boy band, tapi ditinggal timnya, karena mereka cuma berdua, cwe dan cwo hhe atau mungkin duo? entahlah hhe :D) yang mencoba mengambil liputan orang-orang yang ingin berendam. Entah ini kebetulan atau apalah itu, The Pucuk yang baru lahir ini, mungkin bisa langsung ngetren setelah ini. Bisa dibayangkan "THE PUCUK : Anak Gunung" the next boy band (-_-). hhe
berendam lah kami dengan senantiasa tanpa ditunggu-tunggu. (emang juga apa yang ditunggu? hhe)

Pukul 12.00 WIB
Kabut yang turun menyelimuti kolam bukan menjadi hambatan untuk terus berjalan. (macam adventurer aja-..). Kami keluar Cangar dengan muka seadanya. Antara kedinginan (kontrasnya udara dengan air rendaman tadi) dan kucel belom mandi (sebernya yang kedua ini untuk gue, gue ngga mandi dari tadi pagi dan ngga bilas setelah rendem hhhe). Kami mencoba mencari perjalanan lain setelah ini. gue langsung aja nyeletuk "paralayang". kenapa? karena pertama kenal sama orang sini dia bilang disitulah tempat yang view nya dapet banget (maksud lo?) maksudnya ya keren gtu. Tanpa banyak ngebujuk (karena gestur tubuh gue sebenernya udah maksa hhe) kita semua jalan.

Paralayang
Perjalanan turun dari Cangar membuat kita semua sedih (beh macam cerita khayangan pake ada sedih2an hhe). Karena menuju paralayang yang sebenernya ada diatas gunung juga kami harus turun ke kota Batu lagi baru ke atas (menanjak lagi -_-). Kali ini bukan cuma tanjakan biasa. Kami sempat memberhentikan trafic di jalan menanjak karena salah satu motor kami makin ngga kuat nanjak ( itu lagi itu lagi -_- hhe). Tersenyum pada ibu-ibu yang turun dari motor karena sempat berhenti karena motor kami dan ngga kuat untuk meneruskan kalo dari posisi berhenti, sebagai permintaan maaf (maap ya bu, bawa anak gtu lagi, hmm pelajaran buat kalian ini contoh pengorbanan seorang ibu :) ). Sedikit kesasar juga sampe kedalem hutan tapi kami tidak menyebutnya dengan kesasar, melainkan ditunjukan ke Agungannya. bagaimana ngga, semakin ke dalam hutan semakin kami di tunjukan view yang keren2. Koperasi susu di desa antah berantah itu. Mencari bensin eceran karena motor yang ngga kuat nanjak itu (ada ada aja dah ulahnya hhe) udah kehausan. Dan ngga lupa blueberry yang ngga kalah sama blackberry (tapi ngga yakin itu blueberry, cuma nyicip menempelkan lidah di buahnya, takut itu buah racun yang mirip dengan buah blueberry hhe). Perasaan senang kami makin dihantam dengan indahnya view paralayang. (paralayang adalah bentuk olah raga, tempat ini dinamakan nama tersebut karena kerap dijadikan take off olahraga tersebut). Di kelilingi gunung yang berkabut dengan matahari yang berebut dengan awan yang ingin terlihat oleh kami. Semua terasa mimpi. Seakan-akan inilah hidup. kuliah dan segala ragamnya hanya mimpi. semua nya gembira, tertawa teriak, bak anak kecil yang terlahir kembali dan baru saja beberapa menit melihat dunia.

Journey
hari hari seperti ini belum berakhir di Dunia kami. bahkan ini baru saja dimulai. masih banyak yang menanti kami. Tempat yang telah dilupakan oleh orang-orang. Tempat yang mereka hanya bisa tertegun melihat keindahannya hanya dari TV. Kamilah the pucuk (yang sebenernya aneh, karena terbentuk dari iklan "teh pucuk" hhe). Dunia inilah kami. Berjalan seadanya, berkendara seadanya, makan seadanya, berpakaian seadanya (ini sih buat gue doang sebenernya..hhe gimana ngga, gue cuma pake sandal jepit, celana jins, kaos buat tidur semalem, sama jaket baseball akuntansi yang minjem hhe), tapi kami bebas.


We Are Free!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar