Mencari tujuan adalah hal yang
cukup membingungkan. Dikatakan sulit, terkadangn mencari tujuan hanya perlu
merumuskan apa yang butuh untuk dilakukan. Namun jika dikatakan mudah juga
tidak bisa. Terkadang kita harus bisa melihat apa yang bisa terjadi di luar
sana, apa yang seharusnya kita lakukan, bagaimana kita harus bertindak. Seperti
sebuah variabel dependen yang memiliki begitu banyak variabel independen nya,
sehingga sampai pada suatu titik dimana ia akan dipengaruhi oleh variabel
independen X (suatu faktor yang tidak bisa kita definisikan).
Kembali pada permasalahan dimana
kita tidak bisa mencari tujuan hidup kita. Aku pernah bertemu dengan seorang
pria setengah baya. Dilihat dari penampilannya ia adalah seorang pekerja keras.
Kemeja yang rapih dimasukkan kedalam celana sehingga terlihat jelas sabuk/ ikat
pinggang kulitnya. Tas kulit hitam pun tak lepas dari selipan diketiaknya.
“kuliah dimana mas?” itulah kata
yang pertama kali ia ucapkan sekaligus mengawali pembicaraan kita yang begitu
panjang. Ku jawab pertanyaan itu dengan nada seadanya. “aku kuliah di brawijaya
om”. Ia mengangguk pelan. Sedikit terlihat berpikir pria itu mengajukan
pertanyaan yang menurutku sebuah pertanyaan retoris. “mas kuliah itu buat
apa?”. Aku sedikit bingung dengan pertanyaan ini. seperti sebuah jebakan yang
digunakan banyak realityshow dari jepang itu. Maju salah mundur pun salah.
Pilih pintu pertama kamu akan menghadapi satu musuh yang berat, memilih pintu
kedua sama saja bunuh diri. Aku menjawabnya dengan jawaban normatif. “aku
mencari ilmu om”. Tak berpikir panjang, pria tersebut langsung membanjiriku
dengan banyak pertannyaan. “setelah dapat ilmu, terus mau ngapain?”, “emang
ilmu Cuma ada di kuliah ya?”, “tujuan kan tiap orang berbeda, kok mainstreem?”.
Saking banyaknya pertanyaan yang menurutku adalah jawaban pribadi, aku terdiam
karena tidak bisa membalasnya dengan jawaban yang konkrit. Dengan sedikit aksen
berdehem, ia menjawab semuanya.
“mas kok gitu aja bingung,
berarti ketawan mas ngga punya tujuan. Tujuan itu penting loh mas. Kaya pagar.
Kalo mas meleng, mas bakalan diingetin sama tujuan mas. Dan alhasil bakalan
balik lagi ke jalannya. Ke jalan tujuan mas tersebut.” Aku terpana mendengar
pernyataan tersebut. Seperti itukan gunanya tujuan? Seperti itukah maksud dari
tujuan? Apakah aku sangat terlihat sebagai mahasiswa tanpa tujuan? Kalau aku
bertanya lebih dalam, berarti tujuan adalah inti sari dari kegiatan yang selama
ini aku jalani. Tujuan adalah makna dari semuanya. Tujuan adalah awal dan
akhirnya. Bahkan bisa lebih jelas kamu akan berangkat dari mana dan berakhir
mendapatkan apa. Lebih jelas pertanggung jawabannya. Namun ada lagi yang ingin
aku tanyakan. Apakah tujuan sesimpel itu? Apakah dengan mudah kita membentuk
dan merumuskan, lalu dijalankan tanpa ada yang harus dibutuhkan, seperi
misalnya semangat, atau lingkungan?
Pria itu mengerutkan dahi.
Mungkin pertanyaanku membuat ia berpikir lebih jauh terkait pertanyaanku.
Karena ketika ia salah terhadap jawabannya, maka semua itu akan sia-sia buatku.
Ia mungkin sudah berpikiran seperti itu. Maka ia akan sedikit hati-hati dengan
jawabannya. Suasana sedikit menegang. Aku penasaran dengan apa yang akan ia
katakan dan ia mungkin sedang memilah kata-kata yang akan ia berikan kepada ku.
Selang beberapa waktu yang tegang itu ia memecah keheningan.
“kamu percaya takdir? Menurutmu
apa sih takdir itu?”
Aku tentu saja percaya takdir,
tapi apa takdir itu aku masih belum paham. Aku jawab saja sekenanya dan mungkin
terdengar dipaksakan. Aku percaya takdir dan menurutku takdir adalah sesuatu
yang telah ditentukan jalannya. Kita bertemu seseorang di suatu tempat tertentu
tanpa kita menyadarinya itulah takdir. Namun bagaimana takdir itu bekerja aku
kurang mengerti. Pria itu mengangguk pelan. Sepertinya ia sedikit sepakat dengan
perkataanku. “yang kamu lewatkan adalah bahwa takdir tidak semena-mena berjalan
dengan sendirinya. Takdir itu kamu sendiri yang menentukan. Memang ada beberapa
takdir yang kita kenal. Satu tak bisa kita rubah, seperti orang tua, dirimu,
umur dan lain-lain. Namun tujuan adalah takdir yang bisa dirubah. Dengan kata
lain takdir ini sepenuhnya ada ditangan mu.” Inilah jawabannya. Inilah hasil
dari pertemuan yang tak terduga, namun bisa saja sebagai takdir. Keterkaitan
aku dengan dirinya yang mungkin memiliki suatu hukum tarik menarik yang kita
tak mengetahuinya sama sekali. Itulah takdir. Itulah tujuan.
Ya benar semua itu terjadi atas
kehendak dirimu sendiri. Itu lah jawaban dari tujuan tersebut. Tujuan tak serta
merta datang begitu saja. Bukan juga karena sebuah lingkungan atau pun datang
diluar kemampuan mu. Tapi semua itu datang dari kehendak diri masing-masing.
Ketika kamu sudah menentukan apa saja tujuan mu maka kamu akan jalan dengan
sebenar-benarnya apa yang kamu inginkan. Itulah takdir. Itulah tujuan.
NB: “temukanlah tujuan mu maka
semua akan baik-baik saja. Ingan tujuan mu!” itu mungkin kata terakhir dari
pria yang namanya saja aku tidak mengetahuinya. Mungkin ini bisa saja jadi
pelajaran yang mungkin kita tak dapatkan ini di bangku kuliah, atau pendidikan
formal. So this is it.
