Halaman

Kamis, 29 Agustus 2013

Destiny (Tujuan dan Takdir)

Mencari tujuan adalah hal yang cukup membingungkan. Dikatakan sulit, terkadangn mencari tujuan hanya perlu merumuskan apa yang butuh untuk dilakukan. Namun jika dikatakan mudah juga tidak bisa. Terkadang kita harus bisa melihat apa yang bisa terjadi di luar sana, apa yang seharusnya kita lakukan, bagaimana kita harus bertindak. Seperti sebuah variabel dependen yang memiliki begitu banyak variabel independen nya, sehingga sampai pada suatu titik dimana ia akan dipengaruhi oleh variabel independen X (suatu faktor yang tidak bisa kita definisikan).

Kembali pada permasalahan dimana kita tidak bisa mencari tujuan hidup kita. Aku pernah bertemu dengan seorang pria setengah baya. Dilihat dari penampilannya ia adalah seorang pekerja keras. Kemeja yang rapih dimasukkan kedalam celana sehingga terlihat jelas sabuk/ ikat pinggang kulitnya. Tas kulit hitam pun tak lepas dari selipan diketiaknya.
“kuliah dimana mas?” itulah kata yang pertama kali ia ucapkan sekaligus mengawali pembicaraan kita yang begitu panjang. Ku jawab pertanyaan itu dengan nada seadanya. “aku kuliah di brawijaya om”. Ia mengangguk pelan. Sedikit terlihat berpikir pria itu mengajukan pertanyaan yang menurutku sebuah pertanyaan retoris. “mas kuliah itu buat apa?”. Aku sedikit bingung dengan pertanyaan ini. seperti sebuah jebakan yang digunakan banyak realityshow dari jepang itu. Maju salah mundur pun salah. Pilih pintu pertama kamu akan menghadapi satu musuh yang berat, memilih pintu kedua sama saja bunuh diri. Aku menjawabnya dengan jawaban normatif. “aku mencari ilmu om”. Tak berpikir panjang, pria tersebut langsung membanjiriku dengan banyak pertannyaan. “setelah dapat ilmu, terus mau ngapain?”, “emang ilmu Cuma ada di kuliah ya?”, “tujuan kan tiap orang berbeda, kok mainstreem?”. Saking banyaknya pertanyaan yang menurutku adalah jawaban pribadi, aku terdiam karena tidak bisa membalasnya dengan jawaban yang konkrit. Dengan sedikit aksen berdehem, ia menjawab semuanya.

“mas kok gitu aja bingung, berarti ketawan mas ngga punya tujuan. Tujuan itu penting loh mas. Kaya pagar. Kalo mas meleng, mas bakalan diingetin sama tujuan mas. Dan alhasil bakalan balik lagi ke jalannya. Ke jalan tujuan mas tersebut.” Aku terpana mendengar pernyataan tersebut. Seperti itukan gunanya tujuan? Seperti itukah maksud dari tujuan? Apakah aku sangat terlihat sebagai mahasiswa tanpa tujuan? Kalau aku bertanya lebih dalam, berarti tujuan adalah inti sari dari kegiatan yang selama ini aku jalani. Tujuan adalah makna dari semuanya. Tujuan adalah awal dan akhirnya. Bahkan bisa lebih jelas kamu akan berangkat dari mana dan berakhir mendapatkan apa. Lebih jelas pertanggung jawabannya. Namun ada lagi yang ingin aku tanyakan. Apakah tujuan sesimpel itu? Apakah dengan mudah kita membentuk dan merumuskan, lalu dijalankan tanpa ada yang harus dibutuhkan, seperi misalnya semangat, atau lingkungan?

Pria itu mengerutkan dahi. Mungkin pertanyaanku membuat ia berpikir lebih jauh terkait pertanyaanku. Karena ketika ia salah terhadap jawabannya, maka semua itu akan sia-sia buatku. Ia mungkin sudah berpikiran seperti itu. Maka ia akan sedikit hati-hati dengan jawabannya. Suasana sedikit menegang. Aku penasaran dengan apa yang akan ia katakan dan ia mungkin sedang memilah kata-kata yang akan ia berikan kepada ku. Selang beberapa waktu yang tegang itu ia memecah keheningan.

“kamu percaya takdir? Menurutmu apa sih takdir itu?”
Aku tentu saja percaya takdir, tapi apa takdir itu aku masih belum paham. Aku jawab saja sekenanya dan mungkin terdengar dipaksakan. Aku percaya takdir dan menurutku takdir adalah sesuatu yang telah ditentukan jalannya. Kita bertemu seseorang di suatu tempat tertentu tanpa kita menyadarinya itulah takdir. Namun bagaimana takdir itu bekerja aku kurang mengerti. Pria itu mengangguk pelan. Sepertinya ia sedikit sepakat dengan perkataanku. “yang kamu lewatkan adalah bahwa takdir tidak semena-mena berjalan dengan sendirinya. Takdir itu kamu sendiri yang menentukan. Memang ada beberapa takdir yang kita kenal. Satu tak bisa kita rubah, seperti orang tua, dirimu, umur dan lain-lain. Namun tujuan adalah takdir yang bisa dirubah. Dengan kata lain takdir ini sepenuhnya ada ditangan mu.” Inilah jawabannya. Inilah hasil dari pertemuan yang tak terduga, namun bisa saja sebagai takdir. Keterkaitan aku dengan dirinya yang mungkin memiliki suatu hukum tarik menarik yang kita tak mengetahuinya sama sekali. Itulah takdir. Itulah tujuan.

Ya benar semua itu terjadi atas kehendak dirimu sendiri. Itu lah jawaban dari tujuan tersebut. Tujuan tak serta merta datang begitu saja. Bukan juga karena sebuah lingkungan atau pun datang diluar kemampuan mu. Tapi semua itu datang dari kehendak diri masing-masing. Ketika kamu sudah menentukan apa saja tujuan mu maka kamu akan jalan dengan sebenar-benarnya apa yang kamu inginkan. Itulah takdir. Itulah tujuan.


NB: “temukanlah tujuan mu maka semua akan baik-baik saja. Ingan tujuan mu!” itu mungkin kata terakhir dari pria yang namanya saja aku tidak mengetahuinya. Mungkin ini bisa saja jadi pelajaran yang mungkin kita tak dapatkan ini di bangku kuliah, atau pendidikan formal. So this is it.